Oleh : Pdt. Peres Nekwek., M.Th,
Renungan kali ini kita belajar dari 1Tesalonika 2.9. “Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih le/ah kami. Sementara kami bekerja siang ma/am, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan lnjil Allah kepada kamu.” Salah satu komitmen saya dalam tugas adalah bekerja tanpa membebani orang lain. lni pikiran kecil yang selalu menjadi prinsip seumur hidup saya. Waktu sekolah dulu, saya tidak mau menyusahkan orangtua. Kalau boleh saya yang cari uang lalu membantu orangtua daripada menjadi peminta-minta. Seiring waktu saya telah dipercayakan Tuhan menjadi pelayan dan pimpinan kampus, lalu ketika merenungkan komitmen ini, ternyata masih ada yang perlu dievaluasi. Saya susah hidup secara otonom terpisah dari dukungan dan bantuan orang lain. Apalagi di zaman gereja yang sudah mapan, pasti ada hak dan kewajiban diatur dalam tata gereja. Namun dalam ayat ini Paulus beritahu kepada jemaat Tesalonika dan kepada kita juga adalah prinsip dia dari dasar Alkitab dan komitmen hidupnya yang perlu kita belajar dan ambil manfaat rohaninya bagi kita.
I. Bekerja Keras dalam Kehidupan
Dia tidak mau membebani dengan penghidupannya. Tetapi dalam 1Korintus 9: 1-27 Paulus menjelaskan dia adalah rasul seperti yang lain, maka dia juga berhak mendapat upah atau gaji. Dalam ayat 13-14 Paulus berkata “tidak tahukah kamu bahwa mereka yang melayani tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka melayani mesbah, mendapat bagian dari mesbah itu? Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan lnjil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (Mat. 10:10; Luk. 10:7). Selanjutnya Paulus tidak menggunakan hak itu untuk ambil gaji. Paulus lebih suka bekerja keras hasilkan uang untuk pelayanan. Namun dalam pelayanan dia juga dapat dukungan dari teman-teman lain dari Makedonia (2Kor 11 :7-9). Jadi saat ini memang seorang pelayan harus merendahkan diri dan bekerja menghasilkan buah. Hal yang buruk adalah pelayan ambil gaji tanpa melayani. Ketika jemaat ada masalah pelayan lari. Dalam kondisi apa Paulus menyampaikan prinsipnya ini? Kisah Rasul 18:3, dia bekerjasama dengan Akwila dan Friskila membuat kemah pa• da saat merintis jemaat. Apakah seorang pelayan bisa usaha? Gereja yang sudah mapan tidak usah kerja sampingan. Dia harus berjuang untuk pelayanan. Jika kita mempelajari komitmen hidup Paulus ini bagus sekali. Dia memiliki tipe seorang pekerja keras. Dalam Kisah Rasul 9:1 tertulis “sementara itu berkobar-kobar hati Sau/us untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan…” Ayat ini memperlihatkan bahwa Paulus adalah seorang kolerik, prinsipnya radikal dan fanatik. Jika seseorang memiliki sifat begini, itu bagus. Seseorang harus independen dan memiliki pendirian yang kokoh, namun siap melayani dan membayar harga. Prinsip ini mengajarkan kepadanya untuk menolak hal yang bertolak-belakang dengan prinsipnya. Tetapi kelemahanya adalah menggunakan standar yang sama untuk orang lain, maka Paulus disitu dianggap sebagai seseorang yang salah, namun diubahkan Tuhan menjadi seorang yang giat bagi Kristus. John Wicliffe mengatakan Paulus saleh dan adil di hadapan Allah dan manusia. Dia adalah hosios, yaitu sifatnya murni dan saleh secara religius. Dia juga adalah seorang dikaios, artinya dia juga murah hati dan rela memberi. Bagaimana dengan hamba Tuhan saat ini? Apakah memiliki hati hosios dan dikaios dalam pelayanannya? Atau dia hanya mau membebani jemaat dengan kerja sedikit minta bayarannya banyak. Apakah mereka mengembangkan jemaat seperti mengurus kebun yang menghasilkan buahnya?
II. Bekerja Keras Dalam Penginjilan
Paulus adalah seorang pekerja keras dalam pelayanan. Dalam Kisah Rasul 9.6 “tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, dimana akan dikatakan kepadamu apa yang harus kauperbuat.” Demikian juga Tuhan Yesus sampaikan kepada Ananias bahwa “pergilah, sebab orang ini adalah a/at pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang Israel.” (Kis 9:15). Lalu Paulus sendiri sampaikan bahwa “Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita lnjil dan menjadi percaya” (Kis 15:7). Tuhan memilih rasul yang satu ini agak berbeda dari rasul-rasul lain. Dia sudah punya sifat kerja, prinsip pejuang, dan rendah hati. Dia juga punya pendirian terhadap hukum Taurat sebagai orang Farisi dan ikut semua aturan dengan gigih (Filipi 3.5-6; Kis 26:4). Lalu Tuhan mengubahkan perkspektifnya supaya lebih giat lagi bagi pelayanan rohani. Dia bekerja membawa orang kepada Kristus dan hidup sebagai orang Kristen di gereja. Paulus punya prinsip yaitu setiap orang percaya kepada Tuhan menjadi murid Kristus. Orang yang menjadi murid Kristus adalah orang-orang bertanggung jawab, makan hasil karyanya sendiri dan mendukung pelayanan dan ikut mengembangkan gereja dengan pendapatan mereka. Orang Kristen bukan tamu dalam jemaat melainkan menjadi tuan rumah dan menopang jemaat yang membutuhkan pertolongan.
Dalam 1Tesalonika 2:1-12 terlihat disana kerinduan dan kejujuran Paulus supaya mereka mendengar berita lnjil dan menjadi percaya. Dalam ayat 11-12 “kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam kerajaan dan kemuliaan-Nya”. Dalam ayat selanjutnya Paulus bersyukur kepada Allah karena mereka menerima Yesus dan hidup sesuai firman Allah itu. lnilah kemurnian dan kejujuran seorang penginjil seperti seorang ayah mengharapkan anaknya ikuti teladan ayahnya. Lalu orang Tesalonika lakukan itu. Menerima lnjil yang diberitakan lalu hidup sesuai karakter dan sifat Paulus yang mana bekerja keras adalah sifat yang baik.
Ill. Bekerja Keras Dalam Pelayanan
Prinsip Paulus yang ketiga ini terlihat dalam beberapa ayat lain, seperti 2Tesalonika 3.8, “dan tidak makan roti orang dengan percuma tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang ma/am, supaya jangan jadi beban bagi siapapun di antara kamu.” hal senada juga Paulus sampaikan dalam 1Korintus 11 22 “aku banyak berjerih le/ah dan bekerja berat. Kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian.” Sifat orang Kristen harus bekerja dengan tangan sendiri, makan hasil jerih payah sendiri. Prinsip ini ditanamkan dalam budaya Barat sehingga setiap anak dididik untuk mandiri dan menghasilkan sesuatu. Bagaimana dengan situasi di Papua? Saya masih ragu karena kebanyakan orang sudah dimanja oleh uang, jabatan dan keluarga yang menjadi panutan sehingga banyak yang bergantung pada orang lain. Orang-orang harus kerja, jangan biarkan pendatang ambil alih termasuk jualan kayu bakar dan sayur mayur. Bagaimana dengan para sarjana yang sudah selesai kuliah? Kalau sudah kuliah, berarti harus menerapkan ilmu yang sudah diperolehnya itu dimanapun dengan kerja. Saya sebagai ketua yayasan, sering kecewa dengan merekrut orang Papua karena rupanya pemalas, belum mahir dalam banyak hal. Saya pikir itu juga dialami oleh para kepala dinas atau bupati sampai gubernur. Sekarang ini peluang besar untuk kembangkan kemampuan yaitu kearifan lokal. Pemerintah juga mendukung usaha kecil menengah sampai pengusaha pribumi. Atau dimana -mana sedang berkembang wisata kuliner. Kenapa tidak kembangkan itu? Bagiku tidak ada pekerjaan yang meremehkan martabat seseorang, jika bukan aib atau amoralitas. Dalam budaya sebut “kalau tangan bergerak maka mulut bergerak. Kalau tangan diam, maka mulut diam.”Ayo kita makan dari hasil pekerjaan tangan kita sendiri. Dalam tafsiran Matthew Henry ada 4 hal penting dari Paulus buat kita :
1. Dengan sangat penuh kasih sayang ia menginginkan kesejahteraan mereka.
2. Dengan segala kesediaan untuk melakukan kebaikan bagi mereka, dengan sukarela memberikan kepada mereka bukan hanya lnjil saja, tetapi juga hidupnya.
3. Dengan bekerja secara jasmani supaya tidak menjadi beban bagi mereka, atau pelayanannya tidak mahal dan memberatkan mereka.
4. Dengan kekudusan perilaku mereka, yang mengenainya dia menegaskan bukan hanya depan manusia, melainkan depan Allah.
Kesimpulan
lsi hati Paulus terlihat bahwa dia seorang yang gigih, pekerja keras, tidak mau membebani orang lain, namun tetap rendah hati, jujur dan berhati bapa. Paulus punya sifat pribadinya yang baik, lalu dipakai Tuhan untuk memberitakan lnjil serta membawa orang untuk percaya, diselamatkan Tuhan. Semoga ada pelayan seperti Paulus dalam gereja kita.

Integer nec odio. Praesent libero. Sed cursus ante dapibus diam. Sed nisi. Nulla quis sem at nibh elementum imperdiet. Duis sagittis ipsum.